Maluku




Bendera Dan Lambang Maluku

Memiliki Semboyan Siwa Lima (saling memiliki)

Dasar hukum UU 20/1958, UU 46/1999, UU 40/2003
Ibu kota Ambon
Koordinat 8º 30' - 2º 30' LS 125º 20' - 135º 10' BT

Area
• Total 705,645 km2 (272,451 mil²)
• Darat 47,350.42 km2 (18,282.10 mil²)
• Air 658,294.69 km2 (254,169.00 mil²)
1700-an buah lebih yang terdiri atas beberapa pulau besar dan banyak pulau kecil


Populasi (2010)[1]
• Total 1,533,506
• Kepadatan 2.2/km2 (5.6/sq mi)


Demografi
• Suku bangsa Alif'uru (60%), Eropa (20%), Arab (10%), Sulawesi, Jawa, Sumatra dan lainnya (10%)[butuh rujukan]
• Agama Islam (50,8%), Protestan (41,6%), Katolik (6,8%), Hindu (0,4%), Buddha (<0,1%), Khong Hu Chu (<0,1%), Lainnya (0,4%)
• Bahasa Bahasa Ambon (utama), serta 140-an lebih bahasa-bahasa lainnya


Zona waktu WIT

Kabupaten 12 kabupaten
Kota 2 kota
Kecamatan 98 kecamatan
Desa/kelurahan 33 kelurahan dan 989 negeri


Lagu daerah
Rasa Sayang e, Sarinande, Naik-Naik Ke Puncak Gunung, Burung Kaka Tua, Burung Tantina, Pela e, Huhate, Manise, Kole-Kole, Lembe-Lembe, Ouw Ullath e, Waktu Hujan Sore-Sore, Buka Pintu, Ambon Manise Sayang Kene, Hela Rotang, Hela e Hasa-Hasa, Batu Badaong, Nusaniwe, Ole Sio, Waktu Di Pangku Mama, Tanase, Toki Tifa,Hura-Hura Cincin, Balenggang Patah Tanjung, Gunung Salahutu, Saule, Siwalima Arika, Suda Balayar, Goro-Goro Ne, Nona Manis Siapa Yang Punya, Mande-Mande, Gandong e dll.




Maluku memiliki taman bawah laut yang sangat indah, pantai tropis menawan, dan pegunungan vulkanik yang dikelilingi hutan.
Pulau ini merupakan pulau rempah-rempahyang terkenal dan telah menarik banyak pedagang dari India, Cina, Arab, dan Eropa untuk mencari cengkeh dan pala.
Tahun 1511, bangsa Portugis membangun benteng pertama mereka di pulau Ternate, dan berhasil memonopoli perdagangan cengkeh.
Kedatangan Belanda tahun 1599, merupakan ancaman serius bagi Pourtugis yang mengontrol kekayaan alam maluku.
Konflik bersenjata pun pecah, mereka mengambil bea cukai yang besar dari rakyat Maluku.
Belanda akhirnya muncul sebagai pemenang, kemudian mereka memonopoli perdagangan dengan tangan besi.
Seluruh desa diratakan dengan tanah dan ribuan peduduk pulau mati, terutama di pulau Banda.
Inggris kemudian menduduki Maluku selama Perang Napoleon, namun tahun 1814 dikembalikan dan tidak sampai tahun 1863 tanam paksa rempah-rempah dihapuskan di provinsi ini.
Saat ini ikan dan produk laut lainnya merupakan sumber utama pendapatan masyarakat Maluku.
Ada juga nikel, minyak, mangan, dan berbagai jenis kayu sebagai komoditas daerah.

Sejarah

Nama Maluku diperkirakan berasal dari Arab yaitu ‘Jazirat al-Muluk’, yang berarti tanah banyak raja. Hal ini dimungkinkan karena Maluku memiliki kerajaan-kerajaan seperti Ternate, Tidore, Bacan, dan lain-lain. Kora-kora, merupakan armada laut mereka yang terkenal kuat, dilengkapi dengan kano perang yang mampu menjelajahi Laut Sulawesi dan Papua saat masa keemasan mereka. Para Raja mendapatkan kekayaan mereka dari rempah-rempah, terutama cengkeh. Saat itu harga Cengkeh dan rempah-rempah sangat mahal karena kemampuannya mengawetkan makanan tidak seperti sekarang dengan adanya lemari es.
Saat itu Rempah-rempah juga digunakan sebagai obat dan Eropa tanaman ini tidak bisa tumbuh. Pengiriman rempah-rempah ke Eropa harus melewati rute yang rumit, inilah yang menyebabkan harganya menjadi sangat mahal. Kemudian bangsa-bangsa Eropa berpikir harga rempah-rempah akan lebih murah jika mereka datang langsung ketempat asalnya. Dari sinilah sebuah era kolonialismepun dimulai.
Portugis datang pertama kali tahun 1510 danmereka berusaha untuk memonopoli perdagangan di Maluku. Berikutnya Spanyol pun datang dan keduanya harus berjuang menghadapi perlawanan kerajaan Ternate dan Tidore hingga tidak lama kemudian mereka pun menyerah.
Belanda kemudian datang dengan bekal keuangan dan persenjatan yang lebih baik.Mereka juga berpengalaman dalam administrasi perdagangan dan lebih keras terhadap masyarakat Maluku. Penduduk yang menolak untuk bekerja sama di pulau Banda dibantai dengan kejam, dan sebagian dipekerjakan sebagai budak.
Selama kejatuhan VOC, Inggris kemudian memerintah di sini selama setahun tetapi hal ini menimbulkan masalah karena Inggris menyelundupkan benih dari Maluku untuk ditanam di Malaysia dan Ceylon (Sri Lanka). Akibatnya Maluku tidak lagi menjadi pusat rempah-rempah karena pencari rempah-rempah dapat menemukannya di tempat lain yang lebih dekat.

Transportasi

Pintu masuk utama ke Maluku adalah melalui Ibu Kota Provinsi Ambondengan penerbangan reguler dari sebagian besar wilayah Nusantara.
Transportasi Udara dan laut menghubungkan pulau-pulau dengan 79 pelabuhan dan 25 bandara.
Tersedia juga akses ke banyak pulau-pulau terpencil yang menarik untuk Anda kunjungi.

Masyarakat dan Budaya

Berdasarkan sejarahnya masyarakat Maluku sangat beragam, terdiri dari bangsa melayu, India, Arab, cina, portugis, Bugis, dan Jawa.
Masyarakat Ua-ulu memilih tidak berpakaian tradisional dimana prianya dapat dikenali dengan penutup kepala merah.

Kuliner

Banyak makanan laut dapat Anda ditemukan di sini.
Cobalah ikan bakar atau yang dipanggang sambil Anda nikmati pemandangan indah Maluku.
Nasi ikan (beras dan tepung ikan) juga patut Anda coba.
Apabila Anda tertarik mencoba meramu makanan sendiri maka dapat membeli bahan-bahan segar di supermarket terdekat dan toko kecil.

Kantor Pariwisata

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Prov. Maluku
Jl. Jend. Sudirman, Batu Merah, Kota Ambon
Telp. (62-911) 312300
Fax. (62-911) 352471
website : http://www.malukuprov.go.id/

Dikutip dari : id.wikipedia.org/wiki/Maluku

Maluku bagian dari Indonesia
Mari kunjungi dan Lestarikan Maluku
Semoga Bermanfaat

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Prov. Maluku
Jl. Jend. Sudirman, Batu Merah, Kota Ambon
Telp. (62-911) 312300
Fax. (62-911) 352471
Website : http://www.malukuprov.go.id/

Copyright AbdulRomli, Inc.